Mendadak ke Gunung Sabampolulu, Kepulauan Kabaena

Perjalanan menuju puncak gunung sabampolulu, Kabaena

Perjalanan menuju puncak gunung sabampolulu, Kabaena

Gunung Sabampolulu, gunung yang terletak di Pulau Kabaena tepatnya di Kecamatan Kabaena Tengah, Kabupaten Bombana. Gunung yang memiliki ketinggian 1.500 Meter diatas permukaan laut itu dimitoskan sebagai tempat asal muasal ditemukannya tarian Lumense yang sangat dipercayai masyarakat setempat.

Arti Sabampolulu terbagi menjadi 2 kata yaitu saba=timbul/muncul dan mpolulu=mengejar, jadi sabampolulu berarti “muncul mengejar”. Gunung ini juga merupakan salahsatu gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara. Pemandangan yang disuguhkan pun tidak kalah menarik seperti gunung yang biasa kita lihat di berbagai media. Apalagi ditambah dengan pemandangan sebuah gunung disampingnya yaitu gunung batu yang menjadi icon pulau kabaena. Namanya WATUNSANGIA. Watunsangia berdiri megah tepat di atas kepala gunung Sangiawita seperti mahkota berbentuk seperti tanduk. Menurut bahasa setempat watunsangia dibagi menjadi 2 kata yaitu watu=batu dan sangia=pemimpin/penguasa. Jadi watunsangia adalah batu penguasa.




Ini adalah cerita saya saat belibur dan berkunjung ke Gunung Sabampolulu.

Ceritanya saya awali pada hari minggu, tepat 2 hari setelah lebaran idul fitri.

Minggu pagi, aktifitas di kampung halaman saya seperti biasa yaitu acara halal bil halal (baca: bagaimana kebudayaan halal bil halal Kampungku). Acara tersebut dilaksanakan mulai pukul 8-selesai di masjid desa puununu. Setelah acaranya selesai saya pulang kerumah.

Hari ini tak ada rencana apa-apa dan kemana-mana. Jadi saya memutuskan untuk berdiam diri dirumah. Beberapa saat kemudian tiba-tiba rasa kantuk menderaku. Sayapun tidur di kursi sofa ruang tamu.

Belum puas tidur, tiba-tiba saya terbangun karena ada yang ribut. Sayapun membuka mata sekedar untuk memeriksa keadaan sekitar. Ternyata Iwan dan Gafur sudah berada duduk tepat di sebelah saya. Dengan keadaan setengah sadar saya mencoba untuk bangkit dari tidur.

Setelah mencoba menenangkan diri beberapa saat, saya pun mencoba membuka suara dan kami terlibat perbincangan yang cukup serius tentang rencana pendakian ke Gunung Sabampolulu.

Tiba-tiba Irfan dan Al datang, kami pun mencoba menyusun rencana untuk memulai pendakian dan setelah beberapa perdebatan terjadi, kami memutuskan untuk berangkat saat itu juga. Waktu yang kami butuhkan kurang lebih setengah jam untuk mempersiapkan diri.

Tidak banyak yang bisa kami persiapkan karena kami adalah pendaki amatiran. Tepat pukul 1 siang kami berangkat, tak lupa kami meminjam tenda sekolah yang ada di Desa Puununu.

Foto sebelum keberangkatan

Foto sebelum keberangkatan

Perjalanan kami awali dari rumah saya tepatnya di Desa Pongkalaero menggunakan sepeda motor. Selanjutnya desa-desa yang kami lewati adalah Desa Puununu-Batuawu-Langkema-Teomokole-Rahadopi-Tirongkotua dan Sampailah di desa terakhir yaitu Desa Tangkeno.

Kami sempatkan berfoto-foto di anjugan plaza rumah adat kabaena di Desa Tangkeno sebelum melakukan pendakian dan juga sambil memeriksa perlengkapan perkemahan dipuncak gunung. Ternyata kami lupa membawa makanan, air minum, tali dan parang. Kami pun mencoba melengkapinya walau tidak semua bisa dipenuhi. Dengan penuh kekurangan kami pun nekat untuk naik ke puncak gunung, diperjalanan kami sempatkan mencari kayu sebagai alat bantu mendirikan tenda.

Kami memulai pendakian dari Desa Tangkeno kurang lebih pukul 4 sore. Disepanjang perjalanan kami dimanjakan oleh indahnya gunung sangiawita yang seakan terus mengawasi perjalanan kami. Banyak kuda-kuda yang berkeliaran bebas juga menambah semangat perjalanan kami.

Hari sudah mulai terasa gelap. Kamipun memutuskan untuk berkemah di “bukit pemancar” yang berada tidak jauh dari Puncak Gunung Sabampolulu. Kami pun mulai mendirikan tenda dengan peralatan seadanya. Karena tidak ada tali, kami mulai memutar otak. Beberapa orang berpencar mencari sesuatu agar bisa dipake mengikat tenda pada kayu yang telah kami dirikan.

Lebih dari 1 jam, Dengan susah payah tenda itu pun berdiri apa adanya. Minimal bisa jadi pelindung untuk malam ini saja. Hari sudah gelap, udara pun semakin dingin. Karena perlengkapan yang kami bawa pas-pasan maka kami kedinginan. Angin pun mulai berhembus kencang dan kami tak bisa membuat api unggun, Untungnya kami sempat membawa sarung.

Suasana malam hari

Suasana malam hari

Untuk menghilangkan kebosanan di dalam tenda, kami keluar untuk melihat-lihat pemandangan dan menyanyikan beberapa lagu karena sempat membawa gitar. Pulau kabaena terlihat begitu indah pada malam hari, kerlap-kerlip lampu-lampu dari beberapa desa yang terlihat menjadikan hiburan tersendiri bagi kami ditengah kedinginan yang melanda serta angin yang mulai terasa begitu kencang.

Setelah mulai merasa beku di luar, kami pun masuk kedalam tenda untuk makan. Makanan yang kami bawa pun terbatas, hanya mie instan 5 bungkus tanpa dimasak. Mie itu pun kami lahap untuk menghilangkan rasa lapar setelah itu kami mencoba untuk tidur.

Beberapa jam berbaring di kemiringan 10 derajat yang berbatu, tidak ada satu pun yang bisa tidur. Kami pun memuskan untuk berbagi cerita-cerita horor untuk menguji mental kami. Suara tenda yang bising karena tiupan angin membuat suara kami harus sedikit dikeraskan.

Sedang asyik bercerita, tiba-tiba tenda kami roboh dan kami harus membangunnya dari awal. Tidak memakan waktu yang lama tenda pun berdiri kembali seadanya. Kami pun memutuskan untuk tidur saja karena kantuk sudah mulai terasa.

Pukul 5 pagi, kami pun bangun untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung sabampolulu, semua barang kami tinggalkan didalam tenda kecuali air minum. Diperjalanan kami sempatkan berfoto-foto agar bisa mengabadikan gambar perjalan kami dan juga karena baterai kamera yang kami bawa sudah mulai menipis. Benar saja, belum sampai ke puncak gunung semua kamera mati total. Untungnya sudah sempat berfoto. Hehehehe

Kurang lebih setelah 3 jam perjalanan, sampailah kami di puncak tertinggi Pulau Kabaena. Memang benar, semua sudut pulau Kabaena bisa kami tatap secara langsung. Setelah puas berada di puncak tertinggi itu kami pun turun gunung karena perut sudah mulai kosong.

Kami sampai di Desa Tangkeno pada siang hari dan memutuskan untuk makan dirumah warga yang kebetulan kami kenal. Semua makanan yang tersaji ludes kami lahap seperti orang kesetanan. hhehehehe… beginilah jika perjalanan kurang terencana.

Perjalanan hari itu akan kami lanjutkan ke Gua Batuburi yang berada di Desa Lengora dan permandian air panas yang berada di Desa Lamonggi.

Itulah cerita perjalanan kami menuju ke Gunung Sabampolulu. semoga bermanfaat dan tinggalkan komentar anda jika perlu..

Waktu adalah anak tangga, sesekali berhentilah agar kau bisa menyepakati kenyataan dan menyadari sejauh apa kau telah menapak

Jpeg

Panorama di atas awan

Berdiri diatas awan

Berdiri diatas awan

Perjalanan menuju puncak gunung, sempat berfoto sebelum kamera mati total

Perjalanan menuju puncak gunung, sempat berfoto sebelum kamera mati total

Berdoa sebelum memulai pendakian

Berdoa sebelum memulai pendakian

Anjungan plaza rumah adat kabaena

Anjungan plaza rumah adat kabaena

penampakan rumah adat kabaena bersama watunsangia

penampakan rumah adat kabaena bersama watunsangia

Irfan dan aksinya di atas awan

Irfan dan aksinya di atas awan

Watunsangia yang berdiri megah diatas kepala gunung sangiawita

Watunsangia yang berdiri megah diatas kepala gunung sangiawita

selfie di atas awan

selfie di atas awan

sempat berfoto bersama tenda reyot yang sempat roboh tengah malam

sempat berfoto bersama tenda reyot yang sempat roboh tengah malam

Mendaki

Mendaki

Desa Tangkeno Negeri diawan

Desa Tangkeno Negeri diawan

11825679_10204677191311948_7102992062574635225_n

8 thoughts on “Mendadak ke Gunung Sabampolulu, Kepulauan Kabaena

  1. sheddeq

    Haha, sy jdi flashback waktu itu, suasana malam di puncak Gunung Sabampolulu yg dinginnya menggigit, angin yg lumayan kencang, tpi disitulah letak keseruannya, bernyanyi bersama, sharing, cerita” konyol. It’s a best and unforgettable moment of my life. kapan” kita explore kabaena lg ya bro, keep writing.

    Balas

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s